TEHERAN – Gelombang protes besar-besaran yang mengguncang Iran semakin eskalatif hingga Minggu (11/1/2026). Meskipun pemerintah Teheran telah memutus total akses internet sejak Kamis lalu, ribuan massa dilaporkan tetap turun ke jalan untuk menantang kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Laporan terbaru dari video yang diverifikasi AFP menunjukkan bentrokan pecah di sejumlah distrik di Teheran hingga Sabtu malam. Massa tidak hanya meneriakkan slogan anti-pemerintah, namun juga mulai menyasar simbol-simbol otoritas, termasuk laporan pembakaran sebuah masjid yang terekam dalam siaran TRT World.
Pembangkangan di Kota Kelahiran Khamenei
Ketegangan mencapai puncaknya ketika aksi unjuk rasa meluas hingga ke Mashhad, kota kelahiran Ayatollah Ali Khamenei. Mengutip laporan The Guardian, kerumunan demonstran melakukan pawai di tengah kobaran api sebagai bentuk pembangkangan simbolis.
Khamenei sendiri telah mengutuk para demonstran sebagai “perusak” dan menuding Amerika Serikat berada di balik kerusuhan tersebut untuk mengipasi api perbedaan pendapat di dalam negeri.
Trump Ancam Campur Tangan Militer
Situasi domestik Iran kini memicu ketegangan geopolitik setelah Presiden AS, Donald Trump, memberikan peringatan keras melalui media sosial Truth Social. Trump secara terbuka menyatakan kesiapan AS untuk mengintervensi jika otoritas Iran menggunakan kekerasan mematikan.
“Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!” tulis Trump pada Sabtu malam (10/1).
Sebelumnya, Trump juga memperingatkan Teheran agar tidak mulai menembaki demonstran. “Lebih baik kalian jangan mulai menembak, karena kami juga akan mulai menembak,” tegasnya.
Ancaman “Musuh Tuhan” dan Seruan Revolusi
Pemerintah Iran merespons aksi ini dengan langkah hukum yang ekstrem. Jaksa Agung Mohammad Mahvadi Azad memperingatkan bahwa siapa pun yang ikut serta dalam protes akan dikategorikan sebagai “Musuh Tuhan” (Moharebeh), sebuah tuduhan yang diancam dengan hukuman mati. Televisi pemerintah bahkan menegaskan bahwa mereka yang memberikan bantuan sekecil apa pun kepada pengunjuk rasa dapat menghadapi konsekuensi serupa.
Di sisi lain, oposisi kian berani. Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran yang diasingkan, menyerukan mobilisasi massa untuk merebut kontrol atas pusat-pusat kota. “Tujuan kami bukan lagi hanya untuk turun ke jalan, tetapi bersiap merebut pusat kota dan mempertahankannya,” ujar Pahlavi yang berjanji akan segera kembali ke Iran.
Tantangan Informasi
Hingga saat ini, skala pasti dari demonstrasi dan jumlah korban sulit diverifikasi secara independen akibat pemadaman jaringan internet dan seluler yang masih berlangsung. Namun, banyak analis menilai ini adalah tantangan paling serius bagi eksistensi rezim Iran dalam beberapa dekade terakhir.
