
MEDAN – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik diprediksi akan mulai mereda seiring dengan melandainya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Laporan riset pasar terbaru menunjukkan pasar keuangan global mulai melepas sebagian premi risiko (risk premia) akibat meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan pekan ini, yield obligasi AS tenor 2 tahun terpantau terus bergerak turun setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi di kisaran 4,14% pada akhir pekan lalu. Batas atas tersebut kini dinilai menjadi titik jenuh pasca-akumulasi data ekonomi AS terbaru yang memperlihatkan tanda-tanda pendinginan aktivitas pasar.
Melandainya yield surat utang negara adidaya tersebut dipicu oleh rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS bulan April yang mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,4%, sedikit di bawah estimasi konsensus pasar yang sebesar 0,5%. Indikator ini dibarengi pula oleh stagnannya pendapatan personal masyarakat AS yang turun tajam dari posisi 0,6% di bulan Maret menjadi 0% pada April.
Kondisi meredanya imbal hasil obligasi AS diproyeksikan akan langsung memperbaiki daya tarik investasi di pasar berkembang, khususnya skema FX carry trade Indonesia. Investor global yang sebelumnya menarik modalnya untuk mengamankan aset di AS, kini berpotensi mengalirkan kembali dananya (capital inflow) ke instrumen keuangan dalam negeri seperti Surat Berharga Negara (SBN) karena selisih keuntungan yang kembali melebar.
Meski demikian, para pelaku pasar di Asia disarankan untuk tetap mencermati pernyataan dari jajaran pejabat bank sentral AS (The Fed) guna mengonfirmasi arah kebijakan suku bunga acuan ke depan.
Sumber : Analisis pergerakan modal dan obligasi ini mengacu pada riset makro MUFG Research: Asia FX Talk – Tail-risk premia appear to be unwinding.
